Tanggal 7 Maret 2009, ada kunjungan dari Direktorat Bintek Dirjen Binamarga dan Puslitbang Jalan dan Jembatan ke Paket Trengguli-Jati yang dikerjakan PT. Deltamarga Adyatama. Ada beberapa bagian yang lapisan bindernya retak buaya, terutama pada daerah pelebaran. Jalan tersebut begitu diaspal di open traffic (kalo ditutup lalu lintas lewat mana?) dan sewaktu bulan Desember 2008 – Januari 2009 terendam banjir. Nah ini sedikit cerita spesifikasi konstruksi dari lapisan binder kebawah, soalnya wearingnya belum terpasang. Tebal AC binder = 6 cm, AC base = 10 cm, Agregat kelas A = 30 cm, Agregat kelas B = 50 cm, lapisan Geogrid, lapisan Geotextile dan terakhir urugan pilihan (urpil) = 20 cm.Tiga lapisan terakhir (urpil, geotextile dan geogrid) menurut ceritera site engineer dari konsultan pengawas berfungsi sebagai subgrade, beliau ini juga dapat ceritera dari konsultan perencananya. AC Wearingnya pakai aspal starbit, ini aspal modifikasi atau aspal polimer. Biasanya campurannya latex (getah karet). Tapi hasil tes aspal polimer bagus, memenuhi spesifikasi. Pemakaian aspal modifikasi ini dibawah kendali Bintek.

       Sewaktu diskusi dengan bapak Ir. Herman Darmansyah, MSc dari Bintek, bapak Ir. Kurniaji, MSc dari Puslitbang Jalan sambil lihat hasil core dan test pit terlihat retak hanya dilapisan binder saja sedang lapisan basenya utuh. Beliau berdua mengatakan kalau suhu pemadatan tidak sesuai dan kadar aspalnya kurang sedang grading agregatnya banyak halusnya. Memang suhu pemadatan kurang seperti yang dilaporkan konsultan pengawas (seharusnya 1500 C tetapi yang dilakukan 1450 C, alasannya kalau 1500 C aspalnya lengket diroda pemadat). Sebelumnya konsultan pengawas mengadakan uji tersendiri (dilakukan tanggal 19 Februari 2009) untuk lapisan binder dilapangan dengan hasil:

Jenis Uji

Hasil

Spesifikasi

Wheel tracking

5727

Minimum 2500

TFOT

36.36% dan 36.64%

Maksimum 40

Ekstraksi

Rata-rata 5.19%

5.2% (JMF)

Lendutan beban 14 ton

4 mm

-

Kedalaman retak

< 1 cm

-

Saya melihat dari hasil uji wheel tracking lapisan itu kaku sekali. Juga saya lihat dari hasil test pit nya diatas subgrade sudah ada air. Jadi subgrade terendam air. Lha bagaimana tidak terendam daerah pelebaran itu dulunya kolam (empang) yang ditimbun cuma 20 cm dengan urpil.

      Diskusi dilanjutkan malam harinya di direksi keet kontraktor, salah satu point yang saya catat malam itu adalah hasil test CBR Subgrade kurang dari 6%, hasil laporan Core Team. Malam hari itu dengan membawa hasil test pit pak Kurniaji pulang ke Bandung. Paginya itu hari Minggu tanggal 8 Maret saya dengan pak Herman mengambil core drill sebanyak 11 buah dilokasi, dan akan dibawa pak Herman pulang ke Jakarta. Seminggu kemudian saya diundang ke Jakarta ke Bintek untuk diskusi hasil uji sample core drill, hasilnya kadar aspal 4.9% dan ketebalan 5.7 cm. Wah koq dibawah toleransi semua, berbeda dengan hasil tes dari konsultan pengawas. Palu pun diketok kami harus memperbaiki lapisan itu. Saya menyela waktu diskusi dengan mengatakan subgradenya tidak memenuhi syarat sehingga lentur dan mengakibatkan lapisan binder yang sangat kaku pecah. Tapi wong hasil pekerjaan kita yang tidak memenuhi syarat dan kita ini maju tanpa menyiapkan perhitungan subgrade, ya argumentasi ditolak. Coba kalau hasil pekerjaan memenuhi syarat dan kita maju membawa perhitungan subgrade, tentu lain hasilnya.

      Saya ingat pada waktu dosen saya di STJR ITB, yaitu DR. JS. Younger, berkata: “Ingat 90% kekuatan perkerasan ada di subgradenya”. Tebal subgrade memang hanya 60 cm dan CBR nya harus ? 6% itu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Penasaran saya juga buka-buka buku LR 1132 dari TRRL dan MS-1 From The Asphalt Institute’s, dan memang mereka menemukan kerusakan konstruksi perkerasan ada di lapisan aspalnya atau subgradenya atau dua-duanya. Sangat jarang terjadi kerusakan dilapisan agregat, kecuali kalau lapisan agregat itu memakai campuran semen. Mereka berkata demikian karena mereka membongkar jalan yang telah lebih dari usia pelayanannya dan menemukan terjadinya kerusakan. Profesi pavement engineer itu seperti dokter forensik (ahli bedah mayat) yang melakukan otopsi terhadap mayat, ini mati akibat minum viagra atau terkena serangan jantung langsung!