MUSIM PILIHAN, PILIHAN KAJUR DAN SEKJUR DI SAAT PILPRES
Pada tanggal 29 Juni 2009 yang lalu Program Studi Diploma III Teknik Sipil mengadakan pilihan Ketua dan Sekretaris Jurusan untuk masa bakti 2009 – 2013. Pada rapat Program Diploma tanggal 13 Mei 2009, para Ketua Jurusan telah diberi aturan untuk persyaratan calon Ketua dan Sekretaris Jurusan oleh Ketua Program. Aturan yang digunakan adalah Peraturan Universitas Diponegoro Nomor 01 Tahun 2003 Tentang Perubahan Peraturan Universitas Diponegoro Nomor 01 Tahun 2002 Tentang Pelaksanaan Pemilihan Calon Pimpinan Universitas, Pimpinan Lembaga, Pimpinan Fakultas, Pimpinan Program Pascasarjana dan Pejabat Akademik Lain Di Lingkungan Universitas Diponegoro. Tanggal 12 Juni 2009 Jurusan Sipil telah mengeluarkan Surat Edaran yang isinya berupa ekstraksi Peraturan Undip Nomor 01 Tahun 2003 diatas dan berkas pencalonan harus ditangan Kajur pada tanggal 26 Juni 2009. Hingga tanggal 19 Juni 2009 tidak ada satu berkaspun yang masuk, hingga jurusan mengeluarkan pengumuman bagi dosen yang merasa terhalang syarat pencalonannya agar membicarakannya pada Ketua Program, Pembantu Dekan atau Dekan agar persyaratannya dapat diubah. Hal ini disebabkan oleh karena sebagian besar dosen-dosen di Jurusan Sipil saat ini masih kuliah S-2 di Undip, sedangkan salah satu syaratnya adalah adanya Surat Ijin Rektor bagi yang sedang Tugas Belajar.

Situasi menjelang pemilihan memang membuat tekanan tersendiri bagi Kajur, Sekjur maupun Sekretaris Kajur (yang ini bukan Sekjur tetapi sekretaris yang membantu administrasi kemahasiswaan Kajur). Rasanya jurusan terbagi-bagi pada keterpihakan dosen terhadap seorang calon satu dengan yang lainnya. Intervensi dosen, apalagi yang merasa punya kewenangan dengan protes-protes pada Jurusan menjelang hari “H” contrengan (kalau sebenarnya penulisan nama pada kertas kosong bagi yang dipilih) semakin banyak dan sering. Padahal yang nyalon tidak ribut, tetapi yang njago kok ribut terutama ngompori sana-sini. Kami sendiri sebenarnya hanya berpedoman pada aturan yang diberikan oleh Ketua Program. Kalaupun aturan itu dilanggar kami tidak berani menulis Berita Acara sebagai pemenang bagi yang melanggar aturan. Bagi saya pendidikan itu harus mentaati segala aturan biarpun bagaimana pahitnya. Stressing terhadap Kajur, Sekjur bertambah besar manakala aturan dilanggar dan dengan lesan mengatakan: “Menurut Dekan itu diperbolehkan, kok. Saya sudah bertemu Beliau”. Maksud saya tentunya harus ada hitam diatas putihnya, bukan secara lesan. Setelah selesai pemilihan, saya bersyukur pada Tuhan bahwa sudah ada calon pengganti saya, biarpun masih harus diputuskan oleh rapat Senat Fakultas Teknik. Delapan tahun jadi Kajur rasanya capek sekali, apalagi melihat banyak sekali yang masih belum dibenahi di-jurusan. Waktu itu saya hanya mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan dan bekerja secara profesional.